29 January 2013

Dari skripsit.com

Tulisan Ini Gak Lucu
Lagi-lagi... pembahasan ipeka selalu jadi
bahasan yang sensitif antara kubu ipeka
tinggi dan kubu ipeka rendah, yang
akhirnya malah jadi saling mencak-
mencak karena alasan "berpikir sempit".
Di sisi yang pertama berargumen bahwa,
"ipeka itu salah satu pintu kesuksesan.",
di satu sisi lain bilang, "ipeka itu gak
penting, yang penting survive pasca
kampus."
Gak ada yang salah, gak ada yang bener.
Semua cuma relativitas. *uhuk *berasa
ganteng
Sedikit gue analisa, biasanya orang-
orang yang bilang kalo ipeka itu adalah
salah satu pintu sukses, bisa dipastikan
kalo orang itu punya ipeka yang aman.
Sebaliknya, orang yang bilang ipeka itu
gak penting, bisa dibilang kalo orang itu
adalah mahasiswa yang tersiksa karena
ipekanya yang nangkring.
Bagi gue, ipeka gak akan jadi penting
kalo cuma jadi hiasan di atas kertas
belaka, dan cuma dijadiin spekulasi biar
aman nyari kerja yang notabene butuh
requirement ipk min >= 3,00.
*pembahasannya agak berat *mikul
beras
Ada semacam hal yang sangat
konspiratif, yang sebenernya gak mau
gue ceritain karena sifatnya subjektif,
tapi apa boleh buat kalo kalian memaksa
(siapa juga... )
-----------
Mari kita mulai,
Pendidikan dijadiin semacam sistem
yang mewajibkan pelajar/mahasiswanya
dipacu biar dapet nilai bagus semata,
sehingga mereka bisa dapet NEM, IPK,
atau indeks serupa dengan nilai tertentu
(sesuai standar tertentu).
Tujuannya apa? Biar nanti mereka bisa
dipekerjakan jadi pegawai di
perusahaan-perusahaan besar. Itu masih
wajar jika kita mengabdi di perusahaan
nasional, tapi akan jadi aneh ketika
lulusan-lulusan universitas digiring
bekerja di perusahaan-perusahaan asing
dengan iming-iming gaji besar padahal
nilainya cuma sekelas honor cleaning
service di negara asal perusahaan. (coba
baca ini )
Parahnya, bekerja di perusahaan asing
malah dianggap sebagai prestasi. *miris
Menurut gue, tenaga pengajar sekarang
lebih banyak menekan pelajarnya biar
dapet nilai bagus, biar bisa ngerasa
aman di dunia pasca kampus. Karena
kalo mahasiswanya sampe gak dapet
nilai bagus, pengajar dan institusi bakal
berurusan sama akreditasi - imbasnya
sama peminat di institusi (yang
berkurang) - gengsi institusi (yang
berkurang) - subsidi dan perhatian
pemerintah (yang berkurang) - gaji
pengajar (yang berkurang), dan lain lain,
dan lain lain.
Intinya, institusi kita gak mau ngambil
risiko terlalu besar, dan ujung-ujungnya
gak lepas dari kepentingan sebagian
pihak.
Anyway, emang yang dimaksud risiko,
risiko apa Sam?
Risiko ketakutan pengajar/institusi
kepada pelajar/lulusannya kalo sampe
mereka gak dapet nilai bagus, maka
kehidupan pasca kampus mereka akan
menganggur, dan imbasnya kepada
reputasi institusi yang meluluskan.
(serius berat, semoga elo ngerti) .___.
Simpelnya gini,
"Kamu harus punya nilai bagus!
Biar nanti lulus dapet pekerjaan di
perusahaan bagus!"
"Kenapa saya harus kerja jadi
pegawai Pak?"
"Karena hidup kalian akan lebih
terjamin.", sepintas ada benarnya
juga, padahal mungkin dalam hati
mereka akan terucap "Soalnya kalo
elo nganggur, nanti nama baik gue
yang jelek."
Nyatanya, masih aja banyak sarjana
pengangguran. Kekhawatiran institusi
terlalu berlebihan, menjadi semacam
dogma (gukguk) yang salah kaprah.
Ada semacam keterkaitan antara
institusi, perusahaan dan pemerintah.
Kebanyakan perusahaan akan meminta
qualifikasi ipk minimal dan atau ijazah
sebagai syarat bergabung di perusahaan
ybs. Sehingga akan tercipta pola sebagai
berikut:
Perusahaan membuat sistem
kualifikasi - universitas membuat
sertifikasi semacam ipk dan ijazah -
mahasiswa akan ter-
mindset berkuliah untuk mengejar
ijazah (ilmu yang seharusnya dicari
malah cenderung diabaikan) -
untuk mendapat sertifikasi,
kemudian institusi membuat
sistem pembiayaan belajar
menjadi 'mahal' - uang kuliah
selama 4 tahun (efektif)
mahasiswa akan terkesan menjadi
uang untuk 'membeli' ijazah toga -
persaingan yang ketat untuk
mengejar sertifikasi malah
menimbulkan banyak masalah
seperti: jual beli ijazah atau joki
skripsi, bahkan hal yang kecil
semacam nyontek, copas, yang
udah sering terjadi dan tentunya
akan menjadi cikal bakal koruptor-
koruptor muda.
So, ini semua jadi semacam rantai setan
yang susah diputus. Kalo masalah
pendidikan kita ada di biaya, gue rasa
APBN untuk pendidikan masih bisa me-
mark up ratusan ribu jiwa untuk
menjalani proses pendidikan.
Bahkan menurut gue, anggaran lain
semacam 20 M untuk bikin toilet
gedung DPR kan bisa dialihkan ke
masalah prioritas negara, yaitu
pendidikan dan kesehatan. Tapi
nyatanya, korupsi merajalela, anggaran
disalahgunakan, miss-alokasi dana, dan
sebagainya.
Makanya, pejabat pemerintah yang
korup, aseli JAHANAM BANGET.
Begitulah konspirasi pendidikan kita,
beginilah adanya, sadar gak sadar.
--------
Fenomena banyaknya pengangguran,
mungkin disebabkan karena sedikit
pendidikan kita yang menanamkan sikap
survival untuk menghadapi kehidupan
pasca kampus.
Faktanya, karena mahasiswa udah dilatih
hidup aman, maka mahasiswa akan
sangat bergantung sama perusahaan
mana yang bakal menggaji mereka. Yang
pada akhirnya, mereka lebih memilih
menunggu perusahaan me-recruit
mereka (nganggur), ketimbang
melangkah ke zona tidak nyaman untuk
membuat perusahaan sendiri
(berwirausaha).
Analisa gue logic kan? *berasa ganteng
-------
Kembali ke masalah ipeka.
Ipeka emang penting, bagi mereka yang
mau hidup aman. Tapi bagi sebagian
pemenang, mereka gak akan terobsesi
sama ipeka, karena mereka tau bahwa
"nilai di atas kertas buatan
manusia itu" gak akan punya pengaruh
besar sama kehidupan masa depannya.
Gue pernah ngebaca tentang riwayat Bill
Gates yang sama-sama kita tau bahwa
dia mahasiswa DO, dia pernah khawatir
ketika harus pidato di depan mahasiswa
yang belom wisuda, maka mahasiswa
tersebut malah akan memilih ninggalin
kuliah mereka dan ngikutin jejak Bill
Gates (di-DO). (baca pidatonya di sini )
Gue pribadi merasa mendingan, masih
bersyukur bisa kuliah, hehehe. Karena
bagi gue, pendidikan itu tetep penting,
tentunya bagi mereka yang berniat
belajar, bukan berorientasi pada nilai.
Bahkan ada statement yang lebih
ekstrem dari Robert Kiyosaki, bahwa
pendidikan sekolah (kuliah) itu gak
penting, karena sekolah gak ngajarin
lulusannya untuk mengelola hidup en
keuangan. Dan setelah elo baca buku
karangannya, elo akan berpikir bahwa
"kuliah selama ini ternyata
percuma"(baca ini )
Saran gue, jangan se-ekstrem itu deh
kalo elo gak kuat, elo masih punya orang
tua yang harus elo buat bangga dengan
wisuda, hehe.
--------
Dalam postingan yang GAK LUCU kali
ini, gue cuma mau berpesan.
Seenggaknya, sebagai kaum intelek kita
harus mampu mengambil sikap, yaitu:
1. Kalo mau jadi pegawai, duduk aja
yang ganteng di bangku kuliah, terus
dapetin nilai sebagus mungkin biar
aman.
2. Kalo mau jadi pengusaha, duduk
yang kalem, gak perlu ngoyo sama
nilai, yang penting dapet ilmu yang
bisa dimanfaatin nanti di dunia
usaha.
3. Kalo mau jadi leader, ikutlah
organisasi, jadi aktivis, belajar
negosiasi, belajar mengatur orang,
biar nanti elo bisa membayar orang-
orang ber-ipeka tinggi (nomer 1).
4. Kalo mau banyak manfaat, belajarlah
yang tekun, dapetin ilmu yang
bermanfaat, nilai bakal ngikut
dengan sendirinya, perluas wawasan
en pergaulan, aktiflah di kegiatan
luar kampus, berprestasilah, tinggiin
ipeka elo, tapi rendahkan hati elo,
maka elo akan membuka
kesempatan belajar buat mereka-
mereka yang ada di nomer 1,
mengajak sukses orang-orang nomer
2, dan duduk berdampingan sama
orang-orang nomer 3, atau intinya
elo bisa bermanfaat buat banyak
orang.
Silakan memilih. Life is too short, test
your own luck. Okesob?
----------
Kalo pun ipeka itu pintu kesuksesan,
maka, bagi elo yang pintu
kesuksesannya ketutup, akan ada pintu
lain yang akan terbuka.
"Maybe you're reason why, all the
doors are closed, so you could
open one that lead you to the
perfect road." - Firework
[end]
*tulisan ini gak berniat menyinggung
siapa pun, cuma untuk membuka
wawasan en pikiran, openmind plis.
Serius gue takut dibunuh sama intel,
wkwkwkwk.

No comments:

Post a Comment

Terimakasih atas komentarnya. Seumpama berbicara, saya merasa dihargai karena telah dengarkan. Semoga post ini bermanfaat bagi semua.

Followers